Rabu, 27 Februari 2013

Aku (Masih) Sayang Kamu

"Kita omongin nanti aja ya, face to face. Kita ke McD aja".
Suara bbm masuk, dan isinya adalah "ok"......







"Di sini aja ya duduknya. kamu mau makan apa?"
"Aku gak mau nasi, burger aja kali ya"
"Minumnya soda atau apa?"
"Aku mau lemon tea aja ah"
"Ok"

Obrolan pun berlanjut. Panjang, kesana-kemari, sambil menghabiskan pesanan makanan yang kita pesan.
Ia masih terlihat santai, menikmati burgernya sambil tersenyum. Senyum terindah. Senyum yang hangat, yang mampu melelehkan gunungan es hati saya.

"Eh iya, maksud bbm kamu tadi apa sih? Kok tiba-tiba kamu bbm gitu?"
"Sayang, kita udahin aja ya hubungan kita. Gak mungkin kita bisa bertahan seperti ini terus. Aku akuin, memang gak mudah. Tapi kita gak punya pilihan lain...."

Tiba-tiba semua terdiam. Seakan orang-orang satu ruangan ikut terdiam....
Hening.... Matanya pun berkaca-kaca...

"kamu serius?" suara saya memecah keheningan, mencoba memastikan bahwa yang dikatakannya adalah benar dan tidak main-main.
"aku gak tau... Aku bingung..." suaranya mulai berat.

Saya mengerti, saya tahu apa yang ia rasakan, karena saya pun merasakan persis seperti apa yang ia rasakan saat ini.

"Susah... Susah untuk udahin ini semua. Aku gak ngerti kenapa ketika rasa sayang aku semakin besar, hubungan kita semakin erat, tapi tekanan untuk udahin hubungan kita jadi semakin besar...". Kata-kata saya tertahan, tak mampu saya lanjutkan ketika saya lihat gerakan tubuhnya yang mengangkat kepala, berusaha agar tetes-tetes air mata yang sedari tadi sudah menggenangi sudut matanya tidak mengalir turun ke pipinya yang lembut. Tidak menjawab apa-apa, ia hanya terdiam....

"udah mlm nih, pulang yuk". Saya mencoba mengalihkan pikirannya dan menetralkan suasana. "Aku gak mau. Aku masih mau di sini sama kamu. Titik. Jangan paksa aku untuk pulang. please..."
Ia menunjukan keengganannya untuk beranjak dari tempat duduk, tapi kali ini senyum mulai muncul di bibirnya, walaupun kesedihan itu masih tergambar jelas di air mukanya.
"Yasudah, setengah jam lagi aja ya, gak enak klo terlalu malam sama papah kamu". Ia mengangguk, kali ini dengan senyum lebih lebar...

Motor saya pun berjalan pelan menuju rumahnya, entah terlalu melankolis atau memang benar adanya, tapi tampaknya motor saya merasakan apa yang saya rasakan. Saya sudah berusaha memutar gas, tetap saja sang motor berjalan lambat..sangat lambat...
Saya pun meraih tangannya yang sedang memeluk saya dengan erat, tapi ia menolak dan menampik tangan saya "ih ganggu aja sih, aku lagi mau meluk kamu, aku ga mau keilangan kamu". Dan pelukannya pun semakin erat...

Ternyata perjalanan terasa tidak cukup panjang, karena belum puas rasanya didekap erat, tetapi motor sudah harus berhenti, tepat dirumahnya. Ia pun turun, berdiri di samping saya.
"Terimakasih banyak ya untuk malam ini. Kamu ati-ati ya pulangnya" sambil tangannya masih membelai lembut punggung saya.
Saya tidak ikhlas pergi dari rumahnya, rasa-rasanya ingin waktu berhenti saja kali ini, tetapi seringkali memang kenyataan menyatakan sebaliknya. Dengan suara berat saya pun pamit "aku pulang ya. Ini jangan terakhir, please... Aku masih sayang kamu, banget".
Ia menjawab "ih kamu gombal deh" seraya mencubit genit pipi saya. Seandainya saja bukan di pinggir jalan, pasti ciumannya sudah mendarat mulus di pipi saya....

Di tengah perjalanan pulang, hp saya berbunyi, bbm masuk. Saya pun meminggirkan motor saya untuk membuka bbm itu.
"Sayang, aku berat ninggalin kamu. Aku tau minggu depan kamu merit, tapi sisi egoisnya diri aku bilang bahwa aku gak mau kamu ninggalin aku. Aku gak mau tau gimana cara nya, kamu harus bisa bagi waktu untuk aku juga. Aku sayang kamu *hug *kiss".
Saya hanya bisa termenung.... Tidak mengerti dan bingung dengan apa yang saya rasakan dan jalani...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar