Minggu, 03 Maret 2013

Lily Dan Kejutannya

"sayang, aku akan pulang telat nih, mudah-mudahan ga terlalu malam".
"semalam apa? Aku jadi main ke tempat kamu lho hari ini".
"Iya harus jadi main ke tempat aku, karna aku udah kangen sama kamu. Nanti aku kabari lagi ya kalo udah selesai kerjaannya."
"Kamu lanjut selesain aja kerjaan kamu, ga usah keburu-buru. Santai aja."
"ok"
"sip, aku ngeroko-ngeroko dulu deh kalo gitu".


Saya pun keluar kantor, tapi tidak merokok dulu seperti yang saya tulis di bbm. Saya langsung mengambil motor dan berangkat.
Saya sengaja tidak memberitahu bahwa saya sudah dalam perjalanan. Ya, benar. Saya bermaksud memberikan kejutan, karena hari ini saya membawakan bunga lily kesukaannya. "Tuhan, berikan agar saya segera bertemu dengannya. Secepatnya. Agar reda semua rindu yang membuncah ini..."

Sekitar 1 jam, saya sudah mendekati kost Dhea. Ya, wanita itu bernama Dhea. Wanita yang berhasil membuat saya jatuh cinta. Wanita yang selalu saya tunggu sapaan "selamat pagi" nya. Wanita yang sejatinya adalah bidadari namun terperangkap dalam wujud manusia.
Kurang dari 100 meter menuju kost Dhea, saya mampir ke warung kecil membeli rokok, untuk menemani saya menunggu kepulangan Dhea di kostnya. Karna saya tahu, saya pasti akan menunggunya, sendirian.

30 menit berlalu, saya sudah membakar rokok untuk kedua kalinya, tepat didepan kost Dhea. Saya tahu ini akan membosankan, tapi saya siap dengan resiko ini, resiko mati membosankan dalam menunggu. Maka dari itu, dalam menunggu saya menikmati setiap hisapan asap yang merusak paru-paru saya dari batang rokok yang membara. Dalam benak saya, memberi kejutan memang dibutuhkan sedikit pengorbanan.

Batang rokok ketiga, keempat dan pada batang rokok kelima bbm masuk "sayang, aku udah selesai nih kerjaannya, sekarang menuju kost. Kamu berangkatnya sekarang aja. Jadi nanti ketika kamu dalam perjalanan, aku nunggu kamu sambil mandi. Kamu sampe kost, aku udah wangi".
"ok sayang, aku berangkat sekarang. Gak sabar nih ketemu kamu", lagi-lagi saya tidak memberitahu bahwa saya sudah sampai dan sudah menunggunya sedari tadi, dengan bunga lily tentunya.

15 menit berlalu, seharusnya Dhea sudah sampai kostnya, karna memang jarak antara kost dan kantornya tidak terlalu jauh. Tapi bidadari itu belum juga terlihat menuruni khayangan. "senyum bidadariku pasti akan sangat mempesona malam ini" gumam saya dalam hati. Saya tetap menunggu, duduk diatas motor yang terparkir didepan kost Dhea, ditempat yang agak gelap, agar makin sempurna kejutan saya.

Bidadari itu mulai menampakan wujudnya. Hati saya selalu bergetar ketika melihatnya, pun begitu kali ini. Tapi kali ini getarannya sangat kuat, 10 kali lebih kuat dari biasanya. Mungkinkah karna kejutan yang saya rencanakan? Mungkinkah karna bunga lily yang sedang saya genggam? Bukan... Bukan karna itu. Hati saya bergetar kuat karna tidak percaya dengan apa yang saya lihat.

Dhea keluar dari kostnya, ya keluar dari kostnya, bukan datang lalu masuk ke kostnya. Dengan mengenakan kaos dan celana pendek, Dhea benar-benar keluar dari kostnya, di susul seorang lelaki. Sementara saya masih terpaku dimotor saya, tidak percaya dengan yang saya lihat.

"ah, itu mungkin temannya, sedang mampir saja", saya berusaha berfikiran positif. "Tapi mengapa Dhea mengenakan kaos? Bukankah Dhea habis lembur? Dan sepanjang saya menunggu di sini, bukankah tidak ada siapapun yang masuk kekost Dhea?" Pertanyaan-pertanyaan seperti itu meruntuhkan fikiran positif saya.

Mereka masih tampak berbincang kecil diteras kost Dhea. Sesekali mereka tertawa kecil. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi kemudian terlihat lelaki itu mencium kening Dhea. Dhea membalas dengan senyum disertai kecupan lembut di pipi lelaki itu. Hancur, hati saya hancur. Lily digenggaman saya juga ikut layu.

Saya berjalan lunglai, menghampiri Dhea. Begitu melihat saya, Dhea mundur 1 langkah menjauhi lelaki itu. Saya mendekat kearah mereka.
"Dhea, ini untuk kamu", saya memberikan bunga lily itu kepada Dhea. Dhea hanya diam, tak berkata apa-apa, juga tak bergerak sedikitpun. Sementara lelaki itu terlihat sangat bingung dengan apa yang ia lihat. Jelas sekali ia tidak mengerti dengan apa yang sedang ia saksikan.

Melihat Dhea masih berdiri mematung, saya menaruh bunga lily itu di bangku teras. Saya segera membalikan badan melangkah gontai menuju motor, untuk secepatnya pergi meninggalkan kost Dhea. Tak saya perdulikan apakah Dhea masih mematung disana ataukah ia memanggil nama saya. Saya hanya ingin segera pergi meninggalkan kost Dhea. Ingin segera mengobati hati saya yang hancur dan terluka. Walaupun saya tahu pasti, luka ini terlalu nyata dan tidak akan terobati....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar