"iiihh... Kamu rese deh. Ga usah main tebak-tebakan gini, aku udah hafal ini tangan kamu" ujar Nindy saat Arief menutup mata Nindy dari arah belakang. Nindy memegang tangan Arief yang masih menutupi matanya, tapi bukan untuk melepaskan, tetapi untuk menggenggam tangan Arief. Setelah kecupan kecil mendarat di kepala Nindy, barulah Nindy menurunkan tangan Arief.
Arief lalu duduk disebelah Nindy, model rumah makan lesehan membuat mereka duduk berdekatan, sangat dekat dan rapat. Bincang-bincang ringan, diselingi canda-canda kecil yang hangat, membuat mereka terlihat seperti pasangan yang baru beberapa hari berpacaran. Kehangatan dan kemesraan tak pernah hilang dari hubungan yang sudah mereka jalani selama ini.
"Nin, kamu kok ga cerita sih kalo kamu lagi ada masalah?". Pertanyaan Arief menghentikan semua aktifitas yang sedang Nindy lakukan. Mata nindy menatap tajam ke arah Arief.
"hah? Maksud kamu?".
"lupa ya kalo kamu punya aku yang siap mendengarkan keluh-kesah kamu, siap membantu segala kesulitan kamu, siap melakukan yang terbaik agar seorang Nindy kembali tersenyum?".
"arief..." suara nindy begitu lembut. Mendengar suara nindy seperti ini akan membuat orang merasa dibelai lembutnya awan putih pagi hari. Nyaman, damai dan menenangkan. Itulah definisi suara Nindy menurut Arief.
"aku gak ada masalah kok sayang. Aku fine-fine aja", suara lembut Nindy kembali terdengar. Kali ini disertai senyum yang keindahannya mampu meredupkan cahaya bulan purnama sekalipun.
"sayang... Kita udah pacaran 5 tahun lebih lho. Rasanya keterlaluan kalo aku masih gak peka sama kamu. Gesture tubuh kamu menggambarkan lebih banyak hal dibandingkan kata-kata kamu". Kali ini Arief yang tersenyum. Melihat senyuman Arief, Nindy meleleh. Nindy sangat mengagumi senyuman Arief, begitupun Arief mengagumi senyuman Nindy. Dari saling mengagumi senyuman itulah, kisah romansa indah mereka berawal.
Bintang masih menunjukan kerlipannya, menandakan sang bintang sedang berbahagia malam itu. Tapi tidak dengan Nindy. Sekeras apapun Nindy berusaha menyembunyikan kegelisahan yang ia rasakan, tetap saja Arief sangat peka terhadap kekasihnya itu. Nindy tidak sanggup menjawab pertanyaan Arief. Nindy hanya diam dan membisu. Hatinya bergetar, tubuhnya juga.
Melihat hal itu, Arief meraih tangan Nindy, merengkuhnya dalam pelukan. Nindy menangis. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Hanya pelukan Arief yang bisa membuat Nindy nyaman meluapkan tangisannya. Hanya pelukan Arief pula yang mampu meredakan segala kegelisahan Nindy.
Arief mengelus hangat punggung Nindy, membelai lembut rambut Nindy. Emosi tangisan Nindy semakin menjadi. Nindy sesunggukan. Perlahan Arief mengangkat wajah Nindy yang masih terbenam dalam dadanya. "udah lega kan sayang? Senyum dong. Apapun yang menimpa kamu, aku gak mau kehilangan senyum kamu" diikuti kecupan dikening Nindy. Nindy berusaha meredakan tangisnya, tapi hati Nindy menangis sejadi-jadinya.
-=- Bersambung -=-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar