Damar melihat jam tangannya, masih ada 45 menit lagi sebelum pertunjukan dimulai. Ia menarik tangan Rara, lalu mengajaknya pergi.
"mau kemana?"
"masih 45 menit lagi, kita beli makanan dulu".
Rara mengikuti Damar meninggalkan bioskop.
Seperti biasa, mereka mencari supermarket untuk membeli beberapa makanan ringan sebagai teman menonton bioskop. Membawa makanan dari luar bioskop memang dilarang, tapi mereka selalu seperti itu. Supaya lebih murah, itulah alasan mereka yang notabenenya hanyalah pegawai rendahan.
Rara berjalan tepat disamping damar. Sambil melingkarkan tangannya ke lengan Damar, Rara memandang wajah Damar. Bulu-bulu halus di sekitar pipi yang belum sempat dicukur membuat wajah Damar semakin terlihat tegas dan berkarakter. Semakin membuat Rara merasa sangat aman dan nyaman berada di samping Damar.
Atas nama kenyamanan, Damar tidak pernah bisa benar-benar melupakan dan meninggalkan Rara. Walaupun semua teman Damar menyarankannya untuk meninggalkan dan melupakan Rara, tetap saja Damar kembali mengajak Rara jalan untuk sekedar bertemu.
Rara pun demikian, ia tetap menerima setiap Damar mengajaknya jalan, karena ada keyamanan yang ia rasakan ketika bersama Damar.
Hp Rara berdering. "Ardi" ucap Rara. Lalu Rara mundur sedikit menjauhi Damar. Damar berjalan mendekati Rara, berdiri tepat didepan Rara. Terdengar Rara berbincang dengan Ardi di HP. Walaupun Damar tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan Ardi, tetapi dari apa yang diucapkan Rara, Damar bisa menebak apa yang sedang mereka bicarakan.
Rara menaruh kembali hp nya kedalam tas. Lalu kembali berjalan sambil merangkul lengan Damar. Damar melepaskan tangan Rara. Rara memandang Damar dengan rasa heran.
"kamu kenapa?"
"aku gak apa-apa"
Rara tersenyum, kembali merangkul lengan Damar, damar kembali melepaskan. Kali ini Rara berhenti, tidak mencoba merangkul lengan Damar lagi.
"aku tau kamu dekat dengan Ardi. Sekarang aku tau sedekat apa kamu dengan Ardi."
"aku memang sedang dekat dengan Ardi. Tapi aku kan selalu cerita sama kamu kedekatan aku seperti apa."
"Ra, selama ini aku ga pernah menemukan alasan untuk meninggalkan kamu. Tapi sekarang aku punya alasan kuat untuk benar-benar pergi meninggalkan dan melupakan kamu"
"maksud kamu apa sih?"
"kedekatan kamu dengan Ardi cukup untuk jadi alasan bagiku untuk meninggalkan dan melupakan kamu"
"Damar... Kedekatan aku dengan Ardi cuma kedekatan biasa. Kedekatan aku cuma sebatas dia memberiku nasihat-nasihat, dan aku mendengarkan nasihatnya karena dia lebih tua dari aku, dan aku menghormatinya. Udah itu aja. Aku gak ada apa-apa dengan Ardi."
"Ra, aku minta maaf, karena aku menyadari keegoisan aku. Di satu sisi aku gak bisa memberi kamu kejelasan tentang hubungan kita. Tapi di sisi lain, mendengar kamu dekat dengan orang lain itu terasa sangat tidak enak bagiku."
"Damar, aku gak peduli dengan status hubungan kita. Aku nyaman sama kamu dan sebaliknya, itu udah lebih dari cukup."
"mungkin ini saat yang tepat untuk aku meninggalkan kamu Ra. Benar-benar meninggalkan dan melupakan kamu."
"damar...." Rara melingkarkan lengannya ke lengan Damar, erat.
"Ra, memang sulit untuk melupakan kamu, tapi ternyata jauh lebih sulit melihat kamu dengan orang lain."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar