Nindy menyandarkan kepalanya di bahu Arief.
"yuk minum air putih dulu, supaya kamu ga terlalu sesak dadanya" Arief mengarahkan gelasnya ke Nindy.
"sayang, aku gak tau harus mulai dari mana... Aku... Aku..." suara Nindy terbata-bata, masih sesunggukan.
"cantik, kamu ga perlu cerita apa-apa kalo kamu gak sanggup"
"tapi kamu harus tau Rief, aku harus cerita ke kamu. Aku gak sanggup hadapin ini sendiri. Aku butuh kamu". Nindy benar-benar kehilangan kontrol emosinya kali ini.
"aku dipaksa menikahi laki-laki pilihan orangtuaku"
"hah, maksud kamu?" Arief tersentak bagaikan tersengat listrik berjuta-juta volt.
"iya, aku dijodohkan. Aku tau ini terdengar bodoh, mengada-ada, menggelikan. Tapi memang seperti ini adanya. Aku benci ayah, aku benci ibu... Tapi mereka orangtuaku... Aku sayang kamu Rief, tapi aku juga sayang orangtuaku... Aku gak sanggup....". Nindy kembali tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Bibirnya sudah gemetar sedari tadi. Air matanya tak berhenti mengalir. Nindy tertunduk dan kembali membenamkan dirinya dalam pelukan Arief.
Mereka masih diam membisu. Tawa pengunjung lain semakin terdengar keras dan semakin menyayat hati, seolah menertawakan kesedihan yang dirasakan Arief dan Nindy.
"cantik, aku tau kamu sayang banget sama aku. Tapi kamu juga sayang sama orangtua kamu kan?" Nindy mengangguk pelan.
"cantik, aku tau kamu anak yang tidak akan melawan orangtua. Ikutilah.... Turutilah kata-kata mereka..." suara Arief terdengar sangat berat. Sangat terasa Arief memendam sejuat emosi didirinya.
"tapi Rief..."
"cantik, orangtua kamu pasti memilihkan yang terbaik untuk kamu". Arief memotong kata-kata Nindy.
"mereka pasti akan selalu mau yang terbaik untuk kamu. Aku tidak akan meminta kamu untuk melawan orangtuamu, karena aku tau itu tidak baik dan kamu pasti tidak akan mau melakukan itu"
"tapi aku mencintai kamu. Aku butuh kamu untuk selalu disamping aku".
"aku juga sangat mencintai kamu. Bahkan melebihi rasa cinta terhadap diriku sendiri. Kebahagiaanmu diatas segala bagiku. Aku mohon, menikahlah dengan pria pilihan orangtuamu. Tanpa restu orangtua, mustahil kamu bisa bahagia di kehidupan rumah tangga". Kali ini Arief tidak tahan lagi, airmata yang sedari tadi menggenangi sudut matanya mulai mengalir ke pipinya.
"banyak hal dalam hidup yang berjalan tidak sesuai dengan kemauan dan angan kita. Anganku adalah melihat anak-anakku yang lucu lahir dari rahimmu. Tapi ternyata Tuhan berkata lain. Walaupun aku tak pernah tau akan menjadi seperti apa aku tanpa kamu, tapi aku harus ikhlas dengan semua ini. Demi kebaikan dan kebahagiaanmu, menikahlah dengannya".
"tapi aku tidak mencintainya, sama sekali. Cintaku hanya untuk kamu"
"banyak yang bilang cinta tak harus memiliki. Klise dan sangat sulit pada prakteknya. Tapi ini lah kenyataan. Kamu harus bisa mencintainya, karna ia akan menjadi suamimu, ayah dari anak-anakmu." Arief berusaha tegar, walaupun orang bodoh sekalipun akan mudah merasakan dan melihat bahwa ia sedang terpuruk dalam titik terdalam dari apa yang dinamakan kesedihan.
"aku tidak bisa mencintainya. Tidak akan bisa"
"maka kamu harus belajar mencintainya. Harus. Mulai saat ini, kamu harus belajar mencintai laki-laki itu. Rasa cintamu kepadanya harus lebih besar dan mengalahkan rasa cintamu kepadaku". Kata-kata itu membuat arief seolah menghujamkan belati besar dadanya sendiri.
..................................................................................
Sampai depan jalan masuk komplek perumahan Nindy, Nindy pun turun dari motor Arief. Arief membuka helmnya "yasudah, kamu pulang sana, udah malem. Ga enak kalo sampe ada tetangga yang liat kamu sama aku."
"Rief... Minggu depan aku akan dinikahi lelaki itu. Walaupun begitu, kamu harus tau bahwa cintaku hanya untuk kamu. Sampai kapanpun. Aku minta maaf Rief. Kamu mau kan maafin aku?"
"kamu ga perlu minta maaf. Kamu ga salah kok cantik"
"aku minta maaf karna ternyata Tuhan tidak sepaham dengan kita. Tidak mengabulkan angan-angan kita."
"aku ga perlu memaafkan kamu cantik. Kamu ga salah dimata aku. Aku ikhlas dengan semua ini. Tapi aku minta maaf jika aku masih sulit memaafkan orangtuamu"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar