"cantik ya..."
"iya, cantik banget. Aku ga pernah bisa berhenti mengagumi cantiknya langit senja... Sama seperti aku ga pernah bisa berhenti mengagumi kecantikan kamu"
Akupun tersenyum. Dengan kulit putih warisan ibuku yang keturunan tionghoa, jelas terlihat wajahku memerah, persis langit senja yang juga memerah.......................
Awal nya aku tidak suka duduk terdiam memandangi sesuatu, mengagumi sesuatu. Tetapi semenjak hadirnya dirimu dalam hari-hariku, aku mulai terbiasa dengan hal itu. Aku mulai menyukai hal itu, duduk terdiam memandangi sesuatu dengan penuh kekaguman..
Tetes air masih menggelayut di ujung-ujung daun. Tanah dan jalan-jalan masih basah akibat hujan tadi. Tapi matahari mulai muncul sore ini. Muncul sebentar, lalu bersiap untuk mengakhiri masa baktinya hari ini.
Ah, moment yang tepat untuk melakukan kesenganmu yang juga sudah menjadi kesenangku. Menikmati cantiknya senja, ya langit senja yang kita sebut dengan "senja kita".
Pendopo yang menghadap ke barat ini selalu menjadi tempat favorit kita. Dan sekarang aku sudah mengambil posisi di tempat favorit kita, duduk menghadap ke barat, tanpa terhalangi apapun, menikmati senja kita, sendiri.
Tak ada aroma tubuhmu. Tak ada genggaman tanganmu. Tak ada percakapan antara hatiku dan hatimu. Hanya ada aku dan air mata yang selalu membasahi pipiku.
Selalu seperti inilah senja kita sekarang. Semenjak 2 bulan yang lalu. Semenjak aku mengikhlaskanmu untuk memilih menikahi wanita yang kamu sebut "komitmen" dan meninggalkanku, wanita yang kamu sebut "cinta".
Aku menghapus air mataku, tersenyum getir. Aku menguatkan diriku sendiri dan bertekad "aku tidak mau seperti ini terus. Denganmu atau tanpamu, hidupku harus terus berlanjut".
Aku memutuskan beranjak pergi, meninggalkan pendopo, cinta, dan senja kita di belakangku. Sulit memang, tapi aku berkeras melakukannya. Langkah-langkahku berat, semakin menjauhi pendopo semakin terasa berat. Kurasakan dengan penuh kesadaran, bahwa ada yang tertinggal disana. Cinta dan senja kita...
testing
BalasHapus